Pemuda "Tertampan dan Tajir" | Mushab bin Umair #part1 | Kisah 60 Sahabat Nabi


MUSH’AB BIN UMAIR 

(Bagian 1)

Kisah Perjuangan Remaja Paling Tampan dan Kaya

 

Mus’ab bin Umair adalah salah satu sahabat nabi dari kalangan remaja. Kita akan memulai dengan kisah pribadinya terlebih dahulu.

Mush’ab bin Umair… Dia adalah remaja yang terkenal paling tampan dan punya semangat yang tinggi.

Para ahli sejarah melukiskan semangatnya dengan kalimat “Seorang warga kota Mekkah yang mempunyai nama paling harum”.

Mus’ab lahir dan dibesarkan dalam kesenangan. Tak ada satupun anak muda di Mekkah yang beruntung dan dimanjakan kedua orangtuanya seperti yang dialami Mus’ab bin Umair. Ia biasa hidup dalam kemewahan dan sering menjadi bahan pembicaraan diantara gadis-gadis di Mekkah. Ia pun selalu menjadi bintang di berbagai acara-acara.

Wow.. sungguh, kisah hidup yang penuh pesona. Ia diberi gelar oleh Kaum muslimin dengan nama “Mush’ab yang baik”. Ia menjadi pribadi muslim yang tangguh dengan ditempa oleh Islam dan dididik oleh Muhammad SAW.

Inilah kisahnya………

Suatu hari, Mus’ab bin Umair mendengar berita yang telah tersebar luas di kalangan warga Mekkah mengenai Nabi Muhammad SAW. Muhammad SAW mengatakan bahwa dirinya telah diutus Allah sebagai pembawa berita suka dan duka, sebagai da’I yang mengajak ummat beribadah kepada Allah Yang Maha Esa.

Semua berita di Mekkah terpusat pada cerita tentang Rasululullah dan Agama yang dibawanya. Ada berita bahwa Rasulullah bersama pengikutnya biasa mengadakan pertemuan di Bukit Shafa, rumahnya Arqam bin Abil Arqam.

Sore hari, ia pergi mengikuti rombongan pengikutnya Rasululullah. Ia pergi ke tempat Rasulullah sering berkumpul dengan para sahabat untuk mengajarkan ayat-ayat Al-quran dan membawa mereka shalat beribadah kepada Alllah SWT.

Baru saja Mus’ab duduk, ia langsung terpesona dengan ayat-ayat Al-quran yang mengalir dari Kalbu Rasululullah bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ke telinga, meresap ke dalam hati para pendengarnya. Mus’ab terpesona dengan kalimat Rasulullah yang tepat sasaran ke dalam hatinya.

Hampir saja anak muda itu, terangkat dari tempat duduknya karena rasa haru dan gembira. Tetapi, Rasululullah mengulurkan tangannya dengan kasih sayang dan mengurut dada pemuda yang sedang panas bergejolak, hingga tiba-tiba menjadi sebuah lubuk hati yang tenang dan damai. Layaknya lautan yang teduh dan dalam. Pemuda itu telah beriman dan berislam.

Khunas binti Malik adalah Ibunda Mush’ab yang berkepribadian kuat dan pendiriannya tak dapat ditawar. Ia wanita yang disegani bahkan ditakuti.

Ketika Mush’ab masuk Islam, tiada satupun yang ia takuti kecuali ibunya sendiri. Ia pun segera berpikir keras dan ambil keputusan untuk menyembunyikan keislamannya sampai terjadi sesuatu yang dikehendaki Allah.

Waktu terus berlalu, Mus’ab senantiasa bolak-balik ke rumah Arqam menghadiri majelis Rasululullah. Hatinya bahagia dengan keimanan dan ia bersedia menebus amarah murka ibunya yang belum mengetahui berita keislamannya.

Akan tetapi, di Kota Mekkah tak ada rahasia yang tersembunyi, apalagi dalam suasana seperti itu. Kebetulan seorang yang bernama Usman bin Thalhah melihat Mush’ab memasuki rumah Arqam secara sembunyi. Di hari lain, ia melihat Mush’ab shalat seperti Muhammad SAW. Secepat kilat, ia melaporkan berita ini kepada Ibu Mush’ab.

Berdirilah Mush’ab di hadapan Ibu dan keluarganya serta para pembesar Mekkah yang berkumpul di rumahnya. Dengan hati yakin dan pasti, Ia membacakan ayat-ayat Al-Quran yang disampaikan Rasululullah untuk mencuci hati nurani mereka, dengan hikmah dan kemuliaan.

Ketika Sang Ibu hendak membungkam mulut putranya dengan tamparan. Tiba-tiba, tangannya jatuh terkulai karena melihat wajah anaknya berseri dan kian berwibawa. Perasaaan keibuan membuatnya terhindar dari memukul dan menyakiti putranya. Akhirnya, putranya dibawa ke suatu tempat terpencil di rumahnya, lalu dikurung dan dipenjarakannya amat rapat.

Mus’ab tinggal dalam kurung dalam waktu yang cukup lama, sampai beberapa muslim hijrah ke Habsyi. Mendengar berita ini, Mus’ab mengelabui ibu dan penjaga-penjaganya. Lalu, Ia pergi ke Habsyi melindungi diri. Ia tinggal disana bersama saudaranya kaum Muhajirin, lalu pulang ke Mekkah. Baik di Habsyi ataupun di Mekkah, ujian dan penderitaan yang dilalui Mush’ab semakin meningkat.      

--

Pada suatu hari, Ia tampil dihadapan bersama beberapa Muslim yang sedang duduk sekeliling Rasululullah SAW. Hormatnya pada Mush’ab, membuat kaum muslimin menundukkan kepala dan memejamkan mata. Sementara, beberapa orang matanya basah karena duka. Mereka melihat Mus’ab memakai jubah usang yang bertambal-tambal. Padahal belum hilang ingatan mereka tentang pakaian indah Mush’ab sebelum masuk Islam. Pakaiannya berwarna warni dan menghamburkan wangi semerbak.

Adapun Rasululullah menatap Mush’ab dengan pandangan penuh arti. Ada cinta kasih dan syukur dalam hati. Rasul tersenyum mulia dan bersabda :

“Dahulu Saya lihat Mus’ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Semenjak Ibu Mush’ab merasa putus asa untuk mengembalikan Mush’ab kepada agama yang lama. Ia telah menghentikan segala pemberian yang biasa dilimpahkan kepadanya. Bahkan, ia tak sudi nasinya dimakan orang yang telah mengingkari berhala dan patut dikutuk, walau anak kandungnya sendiri.

Akhir pertemuan Mush’ab dengan ibunya, ketika perempuan itu hendak mengurungnya lagi, sewaktu Mush’ab pulang dari Habsyi. Mush’ab bersumpah dan menyatakan tekadnya untuk membunuh orang-orang suruhan ibunya bila rencana itu dilakukan. Setelah ibunda mengetahui kebulatan tekad putranya, tak ada jalan lain baginya kecuali melepaskannya dengan cucuran air mata. Sementara Mush’ab mengucapkan selamat berpisah dan menangis pula.

Perpisahan itu menggambarkan kepada kita, kegigihan luar biasa dalam kekafiran Ibunda. Sebaliknya tekad yang sangat besar dalam mempertahankan keimanannya dari pihak anak. Saat Ibunda mengusirnya dari rumah, Ibunda berkata:

“Pergilah sesuka hatimu! Aku bukan Ibumu lagi!”

Mush’ab pun menghampiri Ibunya sambil berkata :

“Wahai Ibunda! Telah Ananda sampaikan nasihat kepada Bunda, Ananda kasihan pada Bunda. Karena itu saksikanlah bahwa Tiada Tuhan Melainkan Alllah, dan Muhammad Adalah Hamba dan Utusan-Nya”

Ibunda naik darah dan murka,

“Demi Bintang! Sekali-kali aku takkan masuk ke dalam Agamamu itu. Otakku bisa jadi rusak, dan buah pikiranku takkan dipedulikan orang lagi”

Begitulah, Mush’ab meninggalkan kemewahan dan kesenangan yang dialaminya selama ini. Ia memilih hidup miskin dan sengsara. Pemuda tampan dan tajir itu, kini menjadi seorang yang melarat dengan pakaian yang usang. Hidupnya sehari makan dan beberapa hari menderita kelaparan.

Namun, jiwanya yang telah dihiasi dengan Aqidah Suci dan Cemerlang, telah mengubah dirinya menjadi manusia lain. Ia menjadi manusia yang dihormati, penuh wibawa, dan disegani.


----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kunjungi versi Audio Visual disertai text
Channel Youtube Emak Hijaber
https://youtu.be/mvqP1qA9prk

Versi Audio only
Anchor dan Spotify
https://anchor.fm/emak-hijaber/episodes/Mushab-bin-Umair-part-1---Kisah-Perjuangan-Remaja-Paling-Tampan-dan-Kaya---60-sahabat-Rasulullah-ek0fia



Komentar